Pusaran Identitas: Mengapa Selalu Menjadi Senjata Utama dalam Pesta Demokrasi?
Dalam setiap kontestasi politik, terutama pemilu, satu fenomena yang sulit dihindari adalah kemunculan politik identitas. Bukan sekadar taktik sampingan, ia seringkali menjelma menjadi senjata utama yang sangat ampuh. Mengapa demikian?
Akarnya terletak pada fitrah dasar manusia untuk memiliki rasa memiliki dan terhubung dengan kelompoknya. Identitas – baik agama, etnis, gender, atau daerah – bukanlah sekadar label, melainkan bagian integral dari diri seseorang. Ketika seorang kandidat atau partai mampu mengartikulasikan dan membela identitas ini, mereka langsung menyentuh emosi terdalam pemilih, menciptakan ikatan yang kuat dan seringkali irasional.
Secara strategis, politik identitas menawarkan simplifikasi kompleksitas isu. Daripada berdebat program ekonomi yang rumit atau kebijakan publik yang detail, jauh lebih mudah untuk membangun narasi ‘kami’ melawan ‘mereka’. Ini menciptakan garis demarkasi yang jelas, memudahkan mobilisasi massa, dan seringkali mengalahkan argumen rasional dengan sentimen kolektif. Kampanye menjadi lebih tentang siapa Anda dan siapa kami, bukan apa yang akan kami lakukan.
Ditambah lagi, di tengah melemahnya ideologi partai dan kurangnya debat programatik yang substansial, politik identitas mengisi kekosongan tersebut. Media sosial juga berperan besar sebagai corong yang mempercepat penyebaran narasi identitas, seringkali tanpa filter atau verifikasi, menguatkan echo chamber dan polarisasi.
Dengan demikian, selama ikatan identitas masih kuat dan emosi lebih mudah digerakkan daripada logika, politik identitas akan terus menjadi senjata yang efektif. Kekuatannya terletak pada kemampuannya untuk mengikat hati dan pikiran pemilih secara mendalam, meskipun berisiko memecah belah masyarakat demi kemenangan elektoral.










